Tarakan-Kepala SMP 4 Tarakan, Petrus Pati terjaring dalam seleksi calon Kepala Sekolah Indonesia Luar Negeri (KSILN) yang diadakan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas baru-baru ini.
PEMERINTAH sengaja menyiapkan calon KSILN yang akan ditempatkan di 12 sekolah milik Indonesia di luar negeri. Seperti Den Haag (Belanda), Moscow (Rusia), Damascus (Suriah), Kairo (Mesir), Jeddah (Saudi Arabia), Riyadh (Saudi Arabia), Tokyo (Jepang), Davao (Filipina), Yangoon (Myanmar), Bangkok (Thailand), Singapura (Singapura) serta Kuala Lumpur (Malaysia). Sedangkan penempatanya akan dimulai pada tahun 2009 ini hingga tahun 2011 nanti.
“Salah satu syarat untuk bisa mengikuti seleksi tersebut, peserta harus bisa berbahasa Inggris secara aktif,” kata Petrus Pati, kemarin.
Selain itu, peserta juga harus lolos persyaratan administrasi seperti portofolio, sertifikat TOEFL (Test of English as a Foreign Language), pengalaman sebagai kepala sekolah serta perlengkapan lainnya. “Setelah lolos syarat administrasinya, di propinsi ada tes lanjutan yakni kompetensi kepala sekolah serta mengarang mengunakan bahasa Inggris. Untuk propinsi Kaltim yang lolos hanya 3 orang termasuk saya,” ungkap Petrus.
Menurut pria kelahiran Lewokung Flores 8 Januari 1962 ini, secara keseluruhan peserta calon KSILN di tingkat propinsi se-Indonesia setidaknya ada sekitar 98 kandidat. “Dari jumlah tersebut disaring kembali menjadi 25 orang. Nah 25 orang ini sejak 13 hingga 15 Januri lalu, kembali di tes di Jakarta,” jelas Petrus yang mengaku baru tiba ke Tarakan kemarin. Dari 25 orang tersebut hanya akan diambil 12 orang berdasarkan ranking penilaian. Berdasarkan penilaian Petrus termasuk rangking ke 11 dengan nilai akhir 61,7706. Rangking ke I diraih DR Sugiarto MEd dari DKI Jakarta dengan nilai akhir 68,6448.
Pada tes tersebut, masih menurut Petrus, materi yang diberikan lebih berat pada tes sebelumnya. pasalnya dalam tes tersebut setiap peserta harus melewati tes physiologi, presentasi visi-misi serta rancangan implementasi visi-misi dengan bahasa Inggris, dan wawancara dengan bahasa Inggris. “Pokoknya semua harus berbahasa Inggris. Dan tes tersebut dinilai oleh sejumlah juri,” sebutnya.
Bagaimana Petrus yang notabennya latar pendidikannya dari Sarjana (strata 1) Ekonomi bisa berbahasa Inggris dengan aktif? Saat menyelesaikan studinya di bangku SMEA, ternyata ia bekerja di PT Petrosea yakni perusahaan asing yang bergerak di bidang migas dan kontraktor. “Disitulah saya gunakan untuk belajar bahasa Inggris dengan orang asing yang bekerja di perusahaan tersebut,” kata alumni Universitas Terbuka (UT) ini.
Untuk menambah pengetahuannya tentang bahasa Inggris, ia selalu gunakan kesempatan yang ada dengan membaca berita berbahasa Inggris serta sering menulis artikel dengan bahasa Inggris. “Saya yakin dengan menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris, dimanapun kita berada pasti bermanfaat. Agar saya tidak lupa, saya perbanyak membaca maupun menulis artikel berbahasa Inggris,” ungkap Petrus.
Sementara itu, mengenai pengumuman pasti dimana ia akan ditempatkan, Petrus masih menunggu informasi lebih lanjut dari pusat. “Kalau tidak ada halangan 2 minggu hingga satu bulan kedepan akan ada informasinya. Kalau berdasarkan wawancara dengan juri saat seleksi saya pilih Singapura, sebab sesuai visi-misi kota Tarakan yang ingin menjadikan kota ini sebagai kota The New Singapore,” pungkas Petrus. (dio)
PENGHARGAAN BUAT PETRUS PATI,SE DARI GUBERNUR KAL-TIM
SIMPAT-Kualitas sumber daya manusia (SDM) guru Kalimantan Timur cukup membanggakan, karena dari 12 guru terbaik yang mengikuti program nasional untuk mengajar di luar negeri, tiga di antaranya berasal dari Kaltim.Kita bangga dengan prestasi mereka. Bayangkan, dari 12 guru terbaik dari Indonesia untuk mengikuti program nasional mengajar di luar negeri, tiga di antaranya dari Kaltim. Padahal kita memiliki 33 provinsi, kata anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Abdul Hadi, di Samarinda, kemarin.
Ketiga guru --semuanya berstatus kepala sekolah-- pada peringatan Hardiknas (2/5) di Halaman Kantor Gubernur mendapat penghargaan dan uang pembinaan masiing-masing Rp3 juta dari Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak.
Dari ketiga guru itu, Yaya S, kepala SMPN I Sangatta akan mengajar di Singapura, Petrus Pati, Kepala SMPN 4 Tarakan, mengajar di Davao, Philipina, sementara Arbayah akan mengajar di Denhaag, Belanda.
Tiga guru itu akan berangkat ke negara masing-masing pada jadwal yang berbeda. Petrus dan Arbayah akan berangkat ke negara tujuan masing-masing pada Januari 2010. Sementara Yaya akan berangkat September 2010. Mereka menjadi guru di luar negeri selama tiga tahun, yakni 2010 hingga 2013.
Kualitas guru mencerminkan mutu dan kualitas dari pendidikan itu sendiri sehingga dengan terpilihnya tiga guru dari 12 guru yang dibutuhkan pemerintah Indonesia untuk mengajar di luar negeri itu merupakan hal yang sangat membanggakan kita, katanya.
Pihaknya berharap agar prestasi tersebut tetap dijaga dan harus ditingkatkan sehingga akan banyak lahir guru lain yang memiliki kemampuan seperti itu di Kaltim.
Seleksi penentuan guru yang akan mengajar di sekolah luar negeri itu cukup ketat, mulai tes berbagai bahasa asing, tes kemampuan umum dan berbagai tes keterampilan lainnya.
Tidak sekedar mengajar, namun bisa dikatakan bahwa tiga guru itu sebagai duta bangsa dan daerah, yang kelak akan memperkenalkan Indonesia di luar negeri, ujarnya.
Gubernur Kaltim, Awan Faroek Ishak, menjelaskan bahwa program peningkatan SDM termasuk dalam 10 program prioritas pembangunan Kaltim.
Mendukung program pendidikan maka gubernur Kaltim sudah melakukan MoU (nota kesepahaman bersama) dengan 14 bupati/walikota se-Kaltim untuk mengalokasikan 20 persen dari dana APBD untuk sektor pendidikan.
Meskipun sudah diatur dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, namun amanat mengalokasikan 20 persen dari APBD/APBN belum dilaksanakan oleh berbagai daerah di Indonesia termasuk di Kaltim, jadi MoU ini hanya untuk mempertegas lagi amanat UU itu, katanya.
Melalui MoU itu, juga Kaltim termasuk daerah pertama di Indonesia yang menyepakati pelaksanaan wajib belajar (Wajar) 12 tahun, serta komitmen untuk menambah insentif guru Rp1 juta/guru/bulan pada seluruh sekolah se-Kaltim.
Melalui berbagai program itu, maka beberapa tahun akan datang kita harapkan SDM mampu sejajar bahkan bisa melampaui daerah lain di Indonesia, kata Awang, mantan Ketua Dewan Pendidikan Kaltim itu. (dik/ant)
Kunjungan Link Education ABA PERMATA TARAKAN